Blog Siswa Indonesia

Komunitas blog siswa Indonesia, belajar menulis tanpa harus membuat blog sendiri.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

WORKSHOP SAGUSAKU (SATU GURU SATU BUKU)

Kegiatan workshop Satu Guru Satu Buku (SAGUSAKU) yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara dalam rangka Hari Guru Nasional ke – 73 tanggal 24 sd. 25 Nopember 2018. Bersama dengan narasumber Bapak Dahrma BC dan Mbak Dewi DeAn.

Selasa, 18 September 2018

Proyeksi dan Skala Peta

Proyeksi peta adalah cara pemindahan lintang/bujur yang terdapat pada lengkung permukaan bumi ke bidang datar.
Ada beberapa ketentuan umum yang harus di perhatikan dalam proyeksi peta yaitu :
a. bentuk yang diubah harus tetap
b. luas permukaan yang diubah harus tetap
c. jarak antara satu titik dengan titik lain di atas permukaan yang di ubah harus tetap, serta
d. sebuah peta yang di ubah tidak boleh mengalami penyimpangan arah.

Dengan demikian, pada prinsipnya bahwa dengan proyeksi peta diharapkan penggambaran permukaan bumi ke dalam peta tidak terlalu menyimpang dari aslinya, atau dapat mendekati bentuk yang sebernarnya.

Bentuk - Bentuk Proyeksi Peta
Menurut bidang proyeksinya, proyeksi peta dapat dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu proyeksi azimuthal, proyeksi kerucut, dan proyeksi silinder.

I. Proyeksi azimuthal
    ialah proyeksi menggunakan bidang datar sebagai bidang proyeksinya. karenanya, proyeksi ini lebih tepat untuk menggambarkan daerah kutub. 
Ciri - ciri proyeksi azimhutal :
a. Garis - garis bujur sebagai garis lurus yang berpusat pada kutub
b. Garis lintang digambarkan dalam bentuk lingkaran yang konsentris mengelilingi bumi kutub
c. Sudut antara garis bujur yang satu dengan lainnya pada peta besarnya sama.
d. Seluruh permukaan bumi jika digambarkan dengan proyeksi ini akan berbentuk lingkaran.

Proyeksi Azimuthal dibedakan atas 3 jenis, yaitu :
a. proyeksi Azimut Normal yaitu bidang proyeksinya menyinggung kutub
b. Proyeksi Azimut Transversal yaitu bidang proyeksinya tegak lurus dengan ekuator
c. Proyeksi Azimut Oblique yaitu bidang proyeksinya menyinggung salah satu tempat antara kutub dan ekuator.



untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar berikut ini ;

oleh karena itu, proyeksi Azimuthal paling tepat untuk menggambarkan kutub, maka penggambaran kutub melalui proyeksi ini dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
(1) Proyeksi gnomonik, yaitu proyeksi yang titik Y-nya terletak di pusat lingkaran.
(2) Proyeksi stereogenik, yaitu proyeksi yang titik Y-nya berpotongan (berlawanan) dengan bidang            proyeksi.
(3) Proyeksi ortografik, yaitu proyeksi yang titik Y-nya terletak jauh di luar lingkaran .

Gambar 1 : Bentuk Proyeksi Azimuthal


II. Proyeksi Kerucut
Proyeksi bentuk ini diperoleh dengan jalan memproyeksikan globe pada bidang kerucut yang melingkupinya. Puncak kerucut berada di atas kutub (utara) yang kemudian direntangkan. proyeksi dengan cara ini akan menghasilkan gambar yang baik (relatif sempurna) untuk daerah 45⁰ atau daerah lintang sedang. 
Gambar 2 : Proyeksi Kerucut


III. Proyeksi Silinder
Proyeksi silinder diperoleh dengan jalan memproyeksikan globe pada bidang tabung (silinder) yang diselubungkan, kemudian direntangkan. menggambarkan wilayah luas sesuai untuk wilayah khatulistiwa atau lintang rendah. karena menyinggung wilayah khatulistiwa maka garis paralel merupakan garis horizontal & meridian. 

Gambar 3 : Proyeksi silinder
IV. Proyeksi UTM (Universal Transverse Mercator)
Proyeksi UTM adalah proyeksi peta yang terkenal dan sering di gunakan. UTM merupakan proyeksi silinder yang mempunyai kedudukan transversal, serta sifat distorsinya conform. Bidang silinder memotong bola bumi pada dua buah meridian yang disebut meridian standar dengan faktor skala1.    
keunggulan sistem UTM adalah :
1. setiap zona memiliki proyeksi simetris sebesar 6⁰,
2. rumus proyeksi UTM dapat digunakan untuk transformasi zona di seluruh dunia,
3. distorsi berkisar antara 40 cm/1.000m dan 70 cm/ 1.000m.


Gambar 4 : Graticula dalam sistem UTM 
Proyeksi Berdasarkan Distorsinya :
1. Proyeksi Conform (Orthomorfic), yaitu proyeksi yang menunjukkan bentuk daerah, pulau, benua        di peta sama bentuknya dengan kenyataannya di permukaan  bumi.
2. Proyeksi Equal Area (Equivalent), yaitu proyeksi yang menunjukkan luas daerah di peta sama            luasnya dengan di muka bumi.
3. Pryeksi Equidistant, yaitu proyeksi yang mempertahankan kesamaan jarak di peta dengan di                permukaan bumi.


Minggu, 16 September 2018

Kumpulan Soal Online TOEFL

A. Soal Kuis Online Tofle
B. Soal Online TOFLE

Kumpulan Soal Online

A. Soal Online Ujian Sekolah
B. Soal Online Ujian Nasional
C. Soal Online SBMPTN
D. Soal Online Olympiade

E. Soal Online Ulangan Harian SMP Mata Pelajaran IPS

  1. Soal Online Ulangan Harian Kelas VII Semester Genap 2019
  2. Soal Online Ulangan Harian Kelas IX Semester Genap 2019
  3. Soal Online Ulangan Harian Kelas VIII Semester Genap 2019


E- Book TOEFL

Kuis Online TOFLE I


Selasa, 11 September 2018

Pola Curah Hujan di Indonesia

Pola Curah Hujan di Indonesia


Indonesia memiliki dua musim yaitu penghujan dan kemarau. Akan tetapi sebaran curah hujan di setiap wilayah Indonesia sangat bervariasi, dikarenakan oleh berbagai faktor seperti letak geografi, topografi, dan lainnya. Oleh sebab itu, tidak ada batas yang jelas antara musim penghujan dan kemarau dikarenakan Indonesia ada di wikayah Daerah Konversi Antar Tropik.
kadangkala di bulan yang sama ketika kamu lihat berita di media cetak atau elektronik di Medan sedang di landa banjir tetapi di Palu sedang dilanda Kekeringan. kemungkinan yang lain akan beranggapan jika sudah masuk musim hujan maka semua daerah di Indonesia juga akan hujan. Berikut Pola Sebaran Curah Hujan di Indonesia.


Gambar : Pola Curah Hujan di Indonesia



Pola umum curah hujan di Kepulauan Indonesia dapat dikatakan sebagai berikut:
1. Pantai barat setiap pulau memperoleh jumlah hujan selalu lebih banyak dari pantai timur.
2. Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT merupakan barisan pulau-pulau yang panjang dan berderet dari barat ke timur. Pulau-pulau ini hanya diselingi oleh selat-selat yang sempit, sehingga untuk kepulauan ini secara keseluruhan tampak seakan akan satu pulau, sehingga berlaku juga dalil, bahwa di sebelah timur curah hujan lebih kecil, kalau dibandingkan dengan sebelah barat. Sebelah barat dari jejeran pulau ini adalah pantai Barat Jawa Barat.
3. Selain bertambah jumlahnya dari timur ke barat, hujan juga bertambah jumlahnya dari dataran rendah ke pegunungan, dengan jumlah terbesar pada ketinggian 600 - 900 m.
4. Di daerah pedalaman semua pulau, musim hujan jatuh pada musim Pancaroba, demikian juga halnya di daerah-daerah rawa yang besar-besar.
5. Bulan maksimum hujan sesuai dengan letak D.K.A.T.
6. Saat mulai turunnya hujan juga bergeser dari Barat  ke Timur. Pantai Barat Pulau Sumatera sampai Bengkulu, mendapat hujan terbanyak bulan November. Lampung, Bangka, yang letaknya sedikit ke timur, pada bulan Desember. Sedangkan Jawa (utara), Bali, NTB, NTT pada bulan Januari- Februari, yang letaknya lebih ke timur lagi.
7. Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah mempunyai musim hujan yang berbeda, yaitu Mei-Juni. Justru pada waktu bagian lain Kepulauan Indonesia ada pada musim kering. Batas wilayah hujan  Indonesia  Timur  kira-kira terdapat pada 120o bujur timur.
Curah hujan di Indonesia tergolong tinggi yaitu lebih dari 2000 mm/tahun. Akan tetapi, seperti telah disebutkan di muka bahwa antara tempat yang satu dengan tempat yang lain curah hujannya tidak sama. Daerah yang paling besar curah hujannya adalah daerah Baturaden di lereng Gunung Slamet, dengan curah hujan sekitar 7069 mm/tahun. Sedangkan kota Palu di Sulawesi Tengah, merupakan daerah paling kering, dengan curah hujan sekitar 547 mm/tahun.



Rata-rata curah hujan di Indonesia setiap tahunnnya tidak sama, ada yang curah hujannya tinggi sepanjang tahun, ada yang curah hujannya rendah sepanjang tahun. Terdapat 3 jenis pola hujan di Indonesia yaitu:



1. Pola Monsoon: memiliki perbedaan yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau.

2. Pola Equatorial: memiliki 2 puncak musim hujan (bimodial) yang biasanya terjadi pada bulan Maret dan Oktober.

3. Pola Hujan Lokal: hanya memiliki satu puncak musim hujan (unimodial)